Pages

Versi Khusus ADCYAP1 Menentukan 3 Persen Perilaku Migrasi Burung Sylvia atricapilla

Jurnal KeSimpulan.com - Genetika terbang sangat jauh. Semakin jauh perjalanan semakin panjang perbekalan. Trio ornitolog menembak gen burung terbang ketika bermigrasi.

Setiap tahun, sekitar 50 miliar burung mengambil tiket udara untuk migrasi musiman. Mereka bisa menempuh 500 kilometer dalam satu hari dan perjalanan bahkan dari kutub ke kutub. But how? Bagaimana kita tahu kapan, di mana, dan seberapa jauh terbang?

Meskipun beberapa jawabannya terletak pada DNA mereka, tidak ada orang yang tahu dimana letak gen atau bagaimana mekanismenya. Sekarang trio ornitolog telah mengantongi salah satu gen dan kedengarannya aneh yaitu panjang gen yang mempengaruhi panjang penerbangan.

"Jika kita memahami genetika yang mendasari perilaku migrasi, kita dapat memahami lebih lanjut bagaimana dan mengapa migrasi berkembang. Kami juga mungkin lebih mampu memahami seberapa cepat migrasi bisa hilang akibat perubahan iklim." kata Chris Guglielmo, ornitolog dari University of Western Ontario di Ontario, Kanada.

Momen menyambut migrasi, burung umumnya menambah otot dan lemak. Mereka hop dan flap secara gelisah di malam hari karena menggeser jam internal dalam mengantisipasi penerbangan di malam hari. Beberapa eksperimen telah menunjukkan pergeseran ini memiliki dasar genetik seperti halnya waktu, jumlah, dan intensitas penerbangan.

Sejak tahun 1970, ornitologi dari Max Planck Institute for Ornithology di Starnberg, Jerman, telah mempelajari European blackcaps (Sylvia atricapilla) yaitu Warbler umum di Eropa yang biasanya memimpin ke Mediterania saat musim dingin. Beberapa blackcaps telah membentuk wilayah baru saat musim dingin dalam beberapa dekade terakhir. Para peneliti ingin mengetahui dasar genetik perubahan tersebut.

Untuk memburu gen migrasi, Jakob Mueller dan Bart Kempenaers dari Max Planck, bersama dengan Francisco Pulido, sekarang di Complutense University of Madrid di Spanyol, mengeledah enam gen untuk dievaluasi. Mereka memilih yang diketahui mempengaruhi seberapa aktif burung pada malam hari atau berapa banyak cenderung hop dari cabang ke cabang seperti mengeksplorasi lingkungannya.

Para peneliti mengevaluasi 14 populasi blackcaps mulai dari Rusia barat, Eropa, hingga ke selatan yaitu Afrika. Populasi ini bervariasi dalam kecenderungan migrasi. Blackcaps di Cape Verde, misalnya, tidak pernah meninggalkan sarang, sedangkan di Rusia menempuh perjalanan lebih dari 3500 kilometer. Lainnya terbang jarak pendek musiman. Tim sebelumnya menangkap burung-burung ini dan mengambil sampel darah untuk analisis DNA.

Ketika Mueller, Kempenaers, dan Pulido membandingkan gen dengan perilaku tersebut, menemukan sebuah link hanya pada satu gen, disebut ADCYAP1 dan melapor ke Proceedings of the Royal Society B, yaitu versi berbeda nomor gen yang sedikit berbeda salinan ekstra DNA, disebut two-base repeat, tertancap pada akhir gen. Para peneliti menemukan panjang gen berkorelasi dengan berapa banyak burung-burung melompat dan mengepakkan sayap di sekitar sarang pada malam hari.

Mueller mengatakan kegelisahan malam hari seperti itu menunjukkan betapa kuat hasrat burung untuk bermigrasi. Burung yang gelisah lebih banyak memiliki salinan two-base repeat daripada burung yang lebih tenang. Melihat populasi secara keseluruhan, para peneliti menemukan kelompok yang tetap tinggal cenderung memiliki versi pendek gen tersebut, sedangkan burung migran jauh cenderung versi lebih panjang.

"Kami menemukan hubungan yang berkelanjutan antara gen [versi] panjang dan perilaku," kata Mueller.

Gen ini menetapkan peptide dalam otak. Di antara fungsi lainnya, peptida mempengaruh ritme harian dan suhu tubuh untuk peningkatan penggunaan energi, tingkat metabolisme, dan penggunaan lemak. Mueller memberi titik poin bahwa perubahan kondisi ini terjadi seperti burung bersiap-siap untuk bermigrasi.

Staffan Bensch, ornitolog dari Lund University di Swedia, tidak yakin bahwa gen inilah yang menyebabkan variasi dalam perilaku migrasi. Tetapi Guglielmo mengatakan temuan ini signifikan.

"Ini adalah demonstrasi pertama. sebuah gen spesifik yang penting bagi ekspresi perilaku migrasi pada burung," kata Guglielmo.

Mueller mengatakan gen ini tidak akan menjadi satu-satunya. Versi khusus ADCYAP1 hanya menentukan sekitar 3% dari seluruh perilaku migrasi. Puluhan atau bahkan ratusan varian gen juga mungkin terlibat. Dan gen tidak menceritakan keseluruhan. Lingkungan juga mempengaruhi migrasi tetapi kajian genetika migrasi secara jelas semakin terang.
Identification of a gene associated with avian migratory behaviour

Penulis :

Jakob C. Mueller1
Francisco Pulido2
Bart Kempenaers1

Afiliasi :
  1. Department of Behavioural Ecology and Evolutionary Genetics, Max Planck Institute for Ornithology, 82319 Starnberg, Germany
  2. Departamento de Zoología y Antropología Física, Universidad Complutense de Madrid, 28040 Madrid, Spain
Penerbit : Proceedings of the Royal Society B., February 16, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1098/rspb.2010.2567
Jakob C. Mueller http://www.orn.mpg.de/mitarbeiter/mueller.html
Chris Guglielmo http://www.uwo.ca/biology/Faculty/guglielmo/
Staffan Bensch http://www.canmove.ekol.lu.se/o.o.i.s/19310

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment