Pages

Menjaring Baryon Mengapa Seperti Hilang di Alam Semesta

Jurnal KeSimpulan.com - Para astronom melihat materi "biasa" kombinasi proton, neutron, dan elektron yang membentuk segala sesuatu mulai bakteri hingga bintang jauh sebagai baryon.

Secara bersama-sama, baryon dan apa yang disebut "materi gelap", menyusun semua materi yang dikenal di alam semesta. Bilhuda Rasheed, astronom dari Princeton University di Princeton, NJ, dan rekan-rekannya menjelajahi teka-teki lama mengapa pengamatan rinci sinar-X menunjukkan kelompok galaksi (dimana para peneliti percaya harus mewakili isi seluruh alam semesta) mengandung baryon lebih sedikit dari yang diukur oleh pengamatan CMB (cosmic microwave background) dan teori Big Bang tentang asal-usul alam semesta.

Memperhatikan sebagian besar baryon berada di gas panas, Rasheed menggunakan gas cluster galaksi yang diamati sebelumnya dan profil kepadatan massa mengekstrapolasi fraksi relatif baryon terhadap jarak dari pusat cluster dan sebagai fungsi dari massa cluster. Para peneliti menemukan untuk cluster besar, fraksi baryon mendekati nilai kosmis dalam area kurang lebih dua kali lebih besar dari yang biasanya disuevei peneliti.

Hasil penelitian menunjukkan baryon tidak hilang sama sekali tetapi tersebar dengan proporsi besar terletak di luar tepi pengukuran saat ini. Kepadatan cluster gas berkurang lebih lambat dengan jarak dari pusat cluster, relatif terhadap kepadatan massa di daerah luar dan menyarankan efek ini mungkin karena pemanasan gas.

Para peneliti mengusulkan untuk pengamatan sinar-X di masa depan harus mendeteksi baryon dan mengkonfirmasi solusi untuk teka-teki lama yaitu "hilang baryon" dalam astronomi dan melapor ke Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).
Searching for the missing baryons in clusters

Penulis :

Bilhuda Rasheed1
Neta Bahcall1
Paul Bode1

Afiliasi :
  1. Department of Astrophysical Sciences, 4 Ivy Lane, Peyton Hall, Princeton University, Princeton, NJ 08544
Penerbit : PNAS, February 14, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1073/pnas.1009878108
Credit : Bilhuda Rasheed, et.al., PNAS, DOI:10.1073/pnas.1009878108

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment