Pages

Laporan Hasil Sekuens Genome Lengkap Seluruh Kanker Prostat

Jurnal KeSimpulan.com - Genome kanker prostat mengungkap bagaiamana gen berkelana. Tim seratus peneliti mengumumkan sekuens pertama genome seluruh tumor prostat.

Temuan yang dilaporkan ke Nature diharapkan dapat memacu pengembangan yang lebih efisien, mengurangi cara invasif untuk mendiagnosa dan sekaligus mengobati kanker tersebut. Garraway Levi, biolog dari Harvard Medical School di Boston, mengatakan sekuens lengkap ini memungkinkan para peneliti melihat "biologi yang seharusnya terlihat dengan metode lainnya."

Sebagian besar analisis genetik tumor berfokus untuk mencari tahu mutasi sel normal dan kanker bagaimana "kesalahan ejaan" memicu pertumbuhan tumor. Tetapi dengan urutan genome terhadap seluruh (tujuh tumor prostat) dan membandingkannya dengan genome sel-sel normal pasien, para peneliti menemukan sebuah fenomena tidak terduga.

Jangankan kesalahan ejaan tunggal, tumor sudah lama ditulis dalam "paragraf" DNA yang tampaknya telah cerai dan pindah ke bagian lain dalam genome. Migrasi ini tidak acak. Potongan-potongan DNA yang memutuskan semua gen yang terkandung dan menyumbang perkembangan kanker, pindah ke lokasi utama dalam genome dimana mereka menjadi sangat aktif. Dalam prostat, wilayah ini sering dikontrol oleh hormon testosteron dan lainnya.

Bagaimana gen ini mempromosikan diri melompat ke lokasi-lokasi lain tetap menjadi misteri, namun para peneliti percaya dengan struktur DNA tiga dimensi di daerah-daerah tertentu memungkinkan untuk menata genetik ketika genome sedang disalin atau ketika gen tertentu aktif. Kemudian seleksi alam mengambil alih untuk memilih sel yang paling cepat berkembang di prostat.

Beberapa gen yang sebelumnya direlokasi tidak dikaitkan dengan kanker. Salah satunya MAGI2 diketahui muncul untuk berinteraksi dengan jalur kanker. Ini menarik, kata Mark Rubin, patolog dari Weill Cornell Medical College di New York City, karena jalur ini mungkin menjadi "druggable" target pada kanker prostat.

Alexis Borisy, CEO Foundation Medicine (perusahaan diagnosa kanker) di Cambridge, Massachusetts, mengatakan studi menjawab bagaimana genetika dapat diterjemahkan ke dalam terapi menjadi "sebuah contoh yang sangat baik dari gelombang kedatangan informasi genome kanker."

Borisy berharap di masa depan disatukan dengan urutan Cancer Genome Atlas dan proyek-proyek lainnya. Dengan penurunan biaya dan meningkatkan efisiensi sekuensing genome. Borisy memprediksi sekuensing genome kanker pada pasien akan segera menjadi standar perawatan, mirip dengan Scan MRI sebelum operasi.

Setelah peneliti mempelajari kemungkinan gen penanda kanker, teknologi sekuensing semakin begitu akurat sehingga dapat mendeteksi dengan tes darah atau urine, menggantikan diagnosa prostat invasif atau biopsi.

"Kita benar-benar pada titik kritis yang mampu melakukan diagnosis berdasarkan sekuens," kata Rubin.

Borisy mengatakan dalam jangka pendek, salah satu hal yang paling penting untuk belajar genome bagaimana membedakan tumor prostat agresif dengan yang tidak agresif. Uji prostate-specific antigen (PSA) yaitu tes kanker prostat yang digunakan di rumah sakit pada saat ini telah menjadi kontroversi karena cenderung mendiagnosa kanker pada pria yang tidak memiliki tumor agresif dan sering melakukan operasi yang tidak perlu.

Sudhir Srivastava, kepala Cancer Biomarker Research Group di National Cancer Institute di Bethesda, Maryland, mengatakan genome kanker prostat dapat memunculkan tes "diagnosis pendamping" untuk PSA dan memacu pencarian target obat baru. Srivastava mengatakan studi saat ini belum ada di sana. Tujuh tumor bukan sampel yang cukup besar untuk melihat seluruh spektrum mutasi pada kanker prostat.

Para peneliti yang dipimpin oleh Michael F. Berger, genomis dari MIT, sependapat bahwa temuan perlu divalidasi pada jumlah pasien yang lebih banyak. Sekuens tumor prostat untuk mempelajari seberapa sering terjadi mutasi yang berbeda serta mempelajari dimana sebenarnya pengulangan gen mengendalikan kanker.
The genomic complexity of primary human prostate cancer

Penulis :

Michael F. Berger1, et.al

Afiliasi :
  1. The Broad Institute of Harvard and MIT, Cambridge, Massachusetts 02142, USA
Penerbit : Nature, Volume:470, Pages:214–220, 09 February 2011.

Download dan Akses : DOI:10.1038/nature09744

Artikel Terkait : Proyek-proyek Besar Memburu Sekuens Genome Kanker
Credit : Michael F. Berger, et.al (Nature, DOI:10.1038/nature09744)

Artikel Lainnya:

1 comment: