Pages

Kerajinan Cawan Tengkorak Tertua Dibuat Briton di Situs Gua Gough

Jurnal KeSimpulan.com - Kerajinan tangan piala tengkorak dari Briton purba. Bagaimana jika anda membuat dan menyeduh secangkir kopi pada tengkorak manusia?

Cukup mudah, kupas dan kuliti kepala, telinga, mata, rahang bawah dan yahoo! Anda punya cangkir tengkorak untuk menemani roti panggang atau untuk menakuti-nakuti musuh Anda. Manusia membuat cawan tengkorak selama ribuan tahun di antaranya anggota sekte Aghori India yang masih melakukannya pada hari ini.

Sekarang tim arkeolog menganalisis temuan tulang dari sebuah gua di selatan Inggris dan mengajukan klaim sebagai bukti awal kerajinan tangan cangkir tengkorak yaitu selama zaman es hampir 15.000 tahun yang lalu. Namun para peneliti masih merenung bagaimana fitur tertentu dari cawan pesta ini masuk ke dunia fashion London.

Bukti baru datang dari Gua Gough di Cheddar Gorge, Somerset, di mana ribuan wisatawan setiap tahun berjalan kaki menyusuri puncak tebing dan makan keju lokal. Selama penggalian di gua pada tahun 1920 dan antara tahun 1987 hingga 1992, para arkeolog menemukan banyak tulang manusia prasejarah termasuk beberapa tengkorak.

Dua tahun lalu, tim ahli radiokarbon datang langsung ke situs untuk menganalisis waktu dan melaporkan bahwa gua tersebut telah dihuni manusia 14.700 tahun yang lalu yang disebut periode Magdalenian culture (aktivitas budaya simbolis dan artistik yang muncul di seluruh Eropa).

Tim baru yang dipimpin oleh Silvia Bello, paleontolog dari Natural History Museum (NHM) di London, mengeledah tiga tengkorak yang tampaknya telah banyak diubah oleh penghuni gua. Dari pola pemotongan, irisan, dan lecet. Bello dan rekan-rekannya melapor ke PLoS ONE bahwa tengkorak sengaja dibuat untuk cawan/gelas/cangkir atau jenis wadah lainnya.

Fitur di sepanjang bagian depan tengkorak secara konsisten dipukul beberapa kali dengan batu untuk menghilangkan tulang yang membentuk hidung dan wajah, rongga mata tengkorak tampaknya telah dikupas dengan alat batu, dan potongan tiga rahang bawah ditemukan dengan tengkorak yang mengindikasikan fitur dengan hati-hatiterhapus bersama dengan pipi.

Banyak contoh pembuatan cawan tengkorak selama berabad-abad selain kasus-kasus modern seperti Aghori, praktek ini dikenal dalam tulisan Herodotus. Sejarawan Yunani kuno ini berpendapat bahwa Scythians yang sekarang wilayah Rusia selatan selama beberapa abad dari abad ke-8 SM, minum dari tengkorak musuh mereka yang mati. Cangkir tengkorak juga telah ditemukan di lokasi pertanian 7000 tahun yang lalu di Herxheim, Jerman, serta di dua lokasi periode Magdalenian yang tanggal di Perancis. Tim arkeolog menyatakan tengkorak Gua Gough adalah contoh paling awal.

Adapun mengapa manusia Gua Gough Gua membuat piala mengerikan? Bello mengatakan kemungkinan mereka menggunakan dalam beberapa jenis upacara. Meskipun pola kerusakan tulang manusia lain yang ditemukan di situs tersebut, seperti tulang rahang, menunjukkan bahwa mereka membuka tulang untuk mendapatkan sumsum, mungkin sebagai bagian dari praktek kanibalisme.

"Ada usaha secara jelas untuk melestarikan kubah tengkorak selengkap mungkin. Dengan demikian, apakah mungkin ini bagian dari ritual simbolik," kata Bello.

Bruno Boulestin, arkeolog dari University of Bordeaux di Prancis, sependapat dengan analisis tim peneliti. Argumen baik untuk kanibalisme dan kerajinan tangan cangkir tengkorak "benar-benar meyakinkan," kata Boulestin.

Boulestin mengatakan kemungkinan besar tengkorak milik orang-orang di pihak musuh daripada teman atau kerabat sendiri karena dalam "sembilan dari 10" masyarakat yang dikenal dari catatan historis atau etnografis, tengkorak dijadikan piala yang bertujuan untuk mempermalukan musuh.

Adapun secara persis apa yang dimasukkan ke dalam cangkir, Boulestin mengatakan mungkin digunakan untuk minum dengan beberapa jenis minuman. Tetapi mengingat resiko cairan akan bocor keluar melalui jahitan tengkorak, Boulestin menduga wadah mengerikan ini digunakan untuk "persembahan seporsi otak."
Genetic evidence for patrilocal mating behavior among Neandertal groups

Penulis :

Silvia M. Bello1
Simon A. Parfitt1,2
Chris B. Stringer1

Afiliasi :
  1. Department of Palaeontology, The Natural History Museum, London, United Kingdom
  2. Institute of Archaeology, University College London, London, United Kingdom
Penerbit : PLoS ONE, 6(2): e17026, February 16, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0017026
Silvia Bello http://www.nhm.ac.uk/research-curation/staff-directory/palaeontology/s-bello/index.html

Credit : Silvia Bello, et.al., PLoS ONE, DOI:10.1371/journal.pone.0017026

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment