Pages

Hasil Sekuens Tiga Genome Semut Dilaporkan Bersamaan di PNAS

Jurnal KeSimpulan.com - Genome semut tentara. Semut merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Mungkin anda berpikir bahwa pekerja pabrik seperti para semut.

Rupanya, ilmuwan juga berpikir demikian dan empat tim besar peneliti telah melaporkan tiga makalah secara bersamaan hasil sekuens genome semut yang memberikan informasi segala sesuatu dari sistem sosial semut pekerja, bagaimana mereka keluar masuk menjelajahi lemari dapur kita, perang sipil hingga intervensi kasta sosial.

Tiga laporan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) kemarin mendiskripsikan sekuens genome semut api (Solenopsis invicta), semut Argentina (Linepithema humile), dan semut harvester (Pogonomyrmex barbatus). Sedangkan semut keempat akan dilaporkan di PLoS Genetics bulan depan yang mendiskripsikan semut daun.

Keempat spesies semut menarik terkait relevansi mereka pada masyarakat manusia, kata Christopher Smith, biolog dari San Francisco State University di California, yang berkontribusi terhadap tiga dari empat sekuens genome. Semut api dan semut Argentina merupakan spesies invasif di Amerika Serikat yang mengganggu ekosistem dan merugikan tanaman, sedangkan semut api menyebabkan tekanan anafilaksis baik pada manusia maupun ternak.

Industri pertanian dan pemerintah Amerika Serikat telah lama mencari cara untuk mengendalikan hama tanpa menggunakan pestisida beracun, dan Smith mengatakan bahwa genome akan membantu mengungkap bagaimana perilaku alami semut terutama ketergantungan mereka pada bau untuk melawan mereka.

"Semut hidup di dalam dunia kimia," kata Neil Tsutsui, bioevolusionaris dari University of California, Berkeley, yang memimpin studi semut Argentina.

Semut menggunakan perasa dan aroma pada setiap hal untuk navigasi jejak dan sosialisasi. Para peneliti mengidentifikasi sejumlah besar gen yang digunakan untuk mengenali sinyal-sinyal kimia. Semut Argentina, memiliki 367 gen untuk reseptor bau tersebut dua kali lebih banyak dibanding lebah.

Tsutsui mengatakan identifikasi bahan kimia biologis digunakan semut untuk mengenali teman dan musuh memungkinkan untuk menyemprot sarang dengan zat-zat kimia alami sebagai trik agar semut berpikir bahwa mereka telah diserang. Treatment ini bisa memprovokasi terjadinya perang sipil sehingga tidak perlu menggunakan pestisida.

Smith mengatakan cara lain untuk mengendalikan hama semut dengan mengganggu sistem kasta pekerja dan ratu. Genome semut harvester dan semut api mengungkap untuk pertama kalinya bahwa semut memiliki gen serupa dengan yang digunakan lebah madu untuk menghasilkan sebuah "royal jelly" yang mereka persembahkan untuk santapan satu larva istimewa dan menunjuknya sebagai seorang ratu. Menemukan cara untuk menghancurkan jeli ini dapat mengendalikan reproduksi semut.

Genome juga mengungkap tag kimia yang disebut kelompok metil ke atau dari beberapa gen untuk membunuh atau menentukan nasib seekor semut dalam tangga sosial. Pada lebah, royal jelly dan faktor lingkungan lainnya memainkan peran dalam modifikasi "epigenetik" dan kemungkinan juga berlaku pada semut. Beberapa gen yang tampaknya dikendalikan dengan cara tersebut meliputi gen reproduksi sayap dan lemak yang dimiliki ratu yang berumur panjang.

"Inilah mengapa saya begitu bersemangat pada semut. Mereka mengambil satu genome dan membacanya dengan cara yang berbeda untuk menciptakan bentuk yang berbeda," kata Smith.

Memilah-milah massa data dalam genome semut tidak menyenangkan tetapi para peneliti melakukannya dengan baik berkat kecepatan teknik, biaya rendah, dan kualitas tinggi teknologi sekuens genome yang mereka gunakan.

Laporan-laporan ini "sebuah peristiwa penting. Ini awal dari sebuah era dimana kita akan melihat banyak genome dari spesies terkait keluar bersama-sama," kata Gene Robinson, entomolog dari University of Illinois di Urbana-Champaign, yang memimpin tim sekuensing genome lebah madu.

Rencana selanjutnya adalah membandingkan genome berbagai semut untuk mempelajari bagaimana spesies invasif telah menyimpang dari rekan-rekan leluhur evolusioner mereka dan apakah pestisida seperti DDT mempercepat evolusi semut.
The genome of the fire ant Solenopsis invicta

Penulis : Yannick Wurm, et.al.

Penerbit : Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS)

Download dan Akses : PNAS January 31, 2011: DOI:10.1073/pnas.1009690108

Draft genome of the globally widespread and invasive Argentine ant (Linepithema humile)

Penulis : Christopher D. Smith, et.al.

Penerbit : Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS)

Download dan Akses : PNAS January 31, 2011: DOI:10.1073/pnas.1008617108

Draft genome of the red harvester ant Pogonomyrmex barbatus

Penulis : Chris R. Smith, et.al.

Penerbit : Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS)

Download dan Akses : PNAS January 31, 2011: DOI:10.1073/pnas.1007901108

Artikel Terkait : Cari Artikel Terkait
Christopher Smith http://biology.sfsu.edu/people/christopher-smith
Neil Tsutsui http://nature.berkeley.edu/tsutsuilab/People.html
Gene Robinson http://www.life.illinois.edu/entomology/faculty/robinson.html

Credit : Alex Wild Photography http://www.alexanderwild.com/

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment