Pages

Fosil Hidup Nautilus pompilius Di Ujung Nasib Perairan Indo-Pasifik

Jurnal KeSimpulan.com - Nautilus pompilius, fosil hidup yang mendiami perairan tropis Indo-Pasifik pada kedalaman kurang dari 800 meter atau cangkangnya meledak.

Ketika menyelam malam hari di atas terumbu karang dari Filipina ke selatan hingga Asutralia, Anda mungkin melihat satu atau dua nautilus. Tampak seperti persilangan antara gurita dan siput, menatap anda dengan mata pucat dan putih sebelum meluncur mundur dalam air, bergoyang-goyang lembut bersama arus.

Meskipun gerakannya kaku dan lambat, Nautilus pompilius bertahan hampir tidak berubah selama 450 juta tahun. Mereka kerabat ammonoids yang mendominasi lautan selama jutaan tahun sebelum lenyap bersama dinosaurus 65 juta tahun yang lalu, tetapi nautilus tetap hadir melewati bencana dan masih bersama kita pada hari ini.

Temuan baru-baru ini menegaskan sesuatu yang telah lama diduga yaitu reproduksi nautilus sangat lambat, sehingga mereka sangat rentan terhadap jaring nelayan. Populasi mereka di Filipina dan Sulawesi telah menurun.

Nautilus tidak begitu baik untuk dimakan, Anda harus merebus mereka selama berjam-jam, tetapi cangkangnya sangat berharga. Ketika hewan kerang pertama di era Kambrium yaitu sekitar 550 juta tahun yang lalu, cangkang adalah trik canggih. Nautiloid awal menggunakan lapisan perangkap udara yang memungkinkan mereka berdiam di kedalaman air tanpa mengeluarkan usaha.

Nautilus juga memiliki otot yang melekat pada cangkang yang memompa air menjadi sebuah daya pendorong. Power jet seperti ini merupakan cara praktis untuk menjelajahi laut dan sebagian besar cumi modern telah meninggalkan cara tersebut. Meskipun cara primitif untuk berenang, nautilus tersebut tidak rendah diri.

Mereka memiliki memori sederhana dengan otak lebih sederhana daripada kelompok cumi lainnya. Sebuah penelitian di tahun 2008, nautiluses mampu mengetahui cahaya biru sebagai makanan. Sejak itu telah muncul bahwa nautilus dapat belajar bagaimana memecahkan labirin 3D dan ingatan mereka tersimpan selama minimal dua minggu, serta objek sebagai landmark untuk membantu mereka menavigasi.

Kebanyakan Nautilus mengais-ngais krustasea yang mati, cacing dan bintang laut, sering menggali dalam lumpur dan menggigit mereka dengan paruh tajam. Mereka berburu dengan aroma, pelacakan bau dalam radius hingga 10 meter. Mata tidak memiliki lensa, akibatnya penglihatan kabur. Mungkin saja mata kurang bermanfaat bagi mereka, karena pada siang hari bersembunyi di kedalaman dan berburu pada malam hari.

Namun nelayan masih menangkap beramai-ramai. Untuk mengetahui bagaimana perburuan ini mungkin mempengaruhi populasi mereka, Justin Marshall dari University of Queensland di Brisbane, Australia, dan rekannya mengamati nautilus hidup di terumbu Osprey, lepas pantai utara-timur Australia, sejak tahun 1998. Populasi terisolasi yang tidak dijamah oleh manusia sehingga menawarkan dasar pemahaman untuk konservasi yaitu berapa jumlah nautilus aman dari tangkapan.

Jawabannya tidak banyak. Ada sekitar 3000 nautilus hidup di dan sekitar terumbu Osprey dengan luas sekitar 195 kilometer persegi. Empat dari lima adalah laki-laki dan kurang dari 10 persen adalah remaja dan melapor ke PLoS ONE.

Marshall menemukan mereka lebih dari 15 tahun untuk tumbuh menjadi dewasa. Wanita menghasilkan tidak lebih dari 20 telur per tahun dan tidak banyak rasio perempuan yang lahir. Akibatnya, perkembangan populasi lambat untuk pulih bahkan oleh tangkapan nelayan tradisional.

Nautilus belum dimasukkan dalam Red List yaitu database spesies terancam oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan kita tidak benar-benar tahu bagaimana proses ini akan terjadi.
Nautilus at Risk - Estimating Population Size and Demography of Nautilus pompilius

Penulis :

Andrew Dunstan1
Corey J. A. Bradshaw2,3
Justin Marshall4

Afiliasi :
  1. School of Biomedical Science, University of Queensland, Brisbane, Queensland, Australia
  2. The Environment Institute and School of Earth and Environmental Sciences, The University of Adelaide, Adelaide, South Australia, Australia
  3. South Australian Research and Development Institute, Henley Beach, South Australia, Australia
  4. Queensland Brain Institute, University of Queensland, Brisbane, Queensland, Australia
Penerbit : PLoS ONE, 6(2): e16716, February 10, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0016716
Justin Marshall http://www.uq.edu.au/sbms/staff/professor-justin-marshall
Nautilus pompilius (EOL) http://www.eol.org/pages/590944

Credit : EOL http://www.eol.org/pages/590944

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment