Pages

Anti Klimaks Keseksian Lalat Buah Drosophila serrata Karena Biaya Feromon

Jurnal KeSimpulan.com - Keseksian seorang laki-laki membawa mereka terbang jauh. Ini bukan hanya soal kelamin tetapi menyangkut biaya seks yang harus ditanggung.

Dimana pun urusan seks menanggung biaya yang mahal. Sebuah studi yang dilakukan para peneliti dari di Australia menemukan daya tarik seksual pada lalat buah yang meningkat selama beberapa generasi hingga mencapai klimaks. Ini berarti bahwa ada biaya biologis untuk menjadi terlalu seksi, kata Katrina McGuigan, biolog dari University of Queensland di Australia melapor ke Proceedings of the National Academy of the Sciences (PNAS).

Para peneliti merekayasa populasi lalat jantan Drosophila serrata untuk melepaskan sejumlah kelebihan kombinasi feromon dimana para perempuan menganggap bahwa lalat pria terlihat sangat menarik. Kemudian melalui proses pembiakan selektif, peneliti mempelajari beban keturunan laki-laki. Setiap generasi (selama tujuh generasi) proporsi daya tarik laki-laki meningkat. Setelah itu, tidak ada kenaikan lagi.

"Meskipun kami mampu membuat para pria menjadi lebih menarik, pasti ada biaya keafiatan. Sedangkan seleksi seksual benar-benar kuat, ada konsekuensi untuk ciri non-seksual," McGuigan.

Meskipun sifat seksualitas laki-laki seringkali nampak seperti warna-warna cerah pada ekor burung merak dan rambut blonde pada singa, kelimpahan daya tarik seksualitas mungkin bukan hal yang baik, kata McGuigan.

Setelah 11 generasi pembiakan, masih memungkinkan mereka untuk kawin secara alami dan waktu ke waktu efek kekuatan feromon laki-laki berkurang setengahnya hanya dalam waktu lima generasi berikutnya. Tapi apakah ada ekstrapolasi yang akan diambil dari Drosophila serrata untuk pria dan wanita?

"Selalu ada pertanyaan seperti itu. Sulit dikatakan, tetapi hanya individu yang sangat menarik mungkin punya sesuatu yang salah dengan mereka, mungkin tidak sebaik mereka yang tampaknya terikat pada pandangan pertama," kata McGuigan.
Natural selection stops the evolution of male attractiveness

Penulis :

Emma Hine1
Katrina McGuigan1
Mark W. Blows1

Afiliasi :
  1. School of Biological Sciences, University of Queensland, Brisbane 4072, Australia
Penerbit : PNAS February 14, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1073/pnas.1011876108
University of Queensland http://www.uq.edu.au/

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment