Pages

Jangkrik Belatung dan Ulat Hongkong Menu Terbaik Ramah Lingkungan

Jurnal KeSimpulan.com - Makan serangga dapat memerangi pemanasan global. Anda belum manyantap hidangan jangkrik, belatung atau ulat hongkong? Anda belum berperilaku hijau.

Lupakan makanan organik untuk bersantap sayuran yang dipupuk dari kotoran ternak dan konsumsi daging karena memunculkan masalah besar bagi lingkungan. Sapi, kerbau, kambing atau babi merupakan sumber protein yang baik, tetapi mereka juga menjadi pemasok utama karbon dioksida dan metana ketika mereka bersendawa dan kentut.

Salah satu cara untuk mengurangi emisi tersebut sambil mempertahankan diet bergizi mungkin kita dapat membuat burger jangkrik atau perkedel ulat hongkong. Banyak serangga memiliki berat badan yang tumbuh dengan cepat dan memuntahkan gas rumah kaca lebih sedikit daripada rekan-rekan ternak mereka. Bebas Polusi. Bagian sulit adalah membuat mereka terlihat menarik saat disajikan sebagai menu santap di meja makan.

Banyak proses untuk mengubah rumput gajah menjadi hidangan steak makan malam. Di bidang irigasi, pengangkutan pakan untuk penggemukan, dan menjalankan truk pertanian, semua secara langsung atau tidak langsung menghasilkan gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Begitu juga ternak tradisional itu sendiri saat tumbuh, melepaskan jumlah gas yang berlebihan melalui kotoran yang mengeluarkan metana dimana bakteri anaerobic mencerna nutrisi. Menurut laporan FAO dimana semua ilmuwan mengatakan bahwa ternak hampir menyumbang seperlima gas rumah kaca global.

Tetapi serangga tidak seperti hewan berdarah panas atau endothermic dan ternak tradisional. Serangga tidak menghabiskan banyak energi untuk metabolisme tubuh agar tetap hangat.

Dennis Oonincx, entomolog dari Wageningen University di Belanda, dan rekannya mencari beberapa data yang sulit untuk mendukung teori ini. Mereka menguji output tiga gas rumah kaca (carbon dioxide, methane, and nitrous oxide) dari lima jenis serangga termasuk mealworm (Tenebrio molitor) dan jangkrik rumah (Acheta domesticus). Kelima spesies serangga tidak seboros ternak. Mealworm, misalnya, mengeluarkan kurang dari 1% gas rumah kaca yang diproduksi sapi dan sekitar 10% dari babi. Jangkrik bahkan lebih sedikit lagi, para peneliti melapor 29 Desember ke PLoS ONE.

"Saya melihat spesies ini menunjukkan bahwa serangga bisa menjadi menu alternatif yang lebih ramah lingkungan," kata Oonincx.

"Ini tepat untuk dilakukan dan imajinatif, dan saya memuji mereka untuk itu," kata Peter Thorne, ilmuwan kesehatan lingkungan dari University of Iowa di Iowa City, yang juga mempelajari dampak kesehatan masyarakat dari ternak tradisional.

Bagaimanapun tetaplah sulit untuk jujur membandingkan daging sapi dengan serangga dengan analisis siklus hidup yang terlihat pada daftar komponen di setiap kemasan keripik belatung. Tetapi Oonincx mengatakan serangga telah menjadi bagian penting dari diet di banyak budaya selama ribuan tahun.
An Exploration on Greenhouse Gas and Ammonia Production by Insect Species Suitable for Animal or Human Consumption

Penulis :

Dennis G. A. B. Oonincx1
Joost van Itterbeeck1
Marcel J. W. Heetkamp2
Henry van den Brand2
Joop J. A. van Loon1
Arnold van Huis1

Afiliasi :
  1. Laboratory of Entomology, Department of Plant Sciences, Wageningen University, Wageningen, The Netherlands
  2. Adaptation Physiology Group, Wageningen Institute of Animal Sciences, Wageningen University, Wageningen, The Netherlands
DOI:10.1371/journal.pone.0014445
Penerbit:PLOS ONE
Edisi/Tanggal:PLoS ONE 5(12): e14445, December 29, 2010
Download:Full Text (PDF)
Artikel Terkait : Cari Artikel Terkait

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment