Pages

Evolusi Vokal Burung Urban Zosterops lateralis Menaikkan Hertz Melawan Kebisingan

Jurnal KeSimpulan.com – Evolusi spesies burung Hipster mengatasi kebisingan perkotaan. Generasi baru burung perkotaan bersuara di depan telepon lebih keras agar terdengar.

Kita telah tahu burung menaikkan suara agar mereka tetap terdengar di kota besar yang bising, tetapi ini untuk pertama kalinya sebuah bukti bahwa mereka berevolusi sebagai akibat dari kehidupan kosmopolitas.

"Burung urban mungkin memiliki genetika berbeda sebagai tahap awal menjadi spesies 'urban' baru," kata Dominique Potvin dari University of Melbourne, Australia.

Tidak seperti daerah pedesaan, kota dengan latar belakang kebisingan konstan serta bangunan gedung mendistorsi suara. Karena burung jantan menggunakan kicauan untuk mempertahankan teritorial mereka serta untuk menarik perhatian betina, hiruk-pikuk perkotaan bisa membuat gaya otot suara mereka kram.

""Suara alami mereka tertutup oleh kebisingan kota. Apakah spesies ini dapat bertahan hidup di habitat perkotaan tergantung pada kemampuan adaptasi akustik?" kata Potvin.

Tahun lalu, para peneliti menemukan bahwa burung Parus major secara spontan mengganti lagu mereka tergantung pada tingkat latar belakang kebisingan. Potvin dan rekannya bertanya-tanya apakah burung perkotaan berevolusi, tidak hanya sekedar belajar.

Untuk menguji hipotesis, tim merekam 14 Silvereye (Zosterops lateralis), populasi yang menempati lebih dari 1 juta kilometer persegi di pantai timur Australia, membuat studi ini yang terbesar. Silvereyes adalah burung kicauan yang umum dan asli Australia serta banyak ditemukan di banyak kota dan negara bagian.

Kebisingan kota sebagian besar dihasilkan oleh lalu lintas jalan raya dan pesawat terbang antara 1 hingga 4 kilohertz sudah menjadi berita buruk untuk Silvereye yang bernyanyi dalam kisaran 2 hingga 6 kilohertz.

Potvin merekam burung jantan di tujuh kota Australia dan daerah pedesaan yang sesuai, misalnya, kosmopolitan Melbourne dan Lerderderg di dekat State Park. Secara total 81 burung dicatat dan masing-masing tag untuk memastikan bukan penggulangan sampel dua kali.

Tim peneliti menganalisis dua jenis kicauan yaitu nyanyian dan kontak panggilan. Kontak panggilan merupakan respon tanda bahaya atau makanan, lebih pendek dari pada kicauan nyanyian dimana burung belajar dari nenek moyang mereka.

"Jika Anda menempatkan seekor bayi burung ke dalam kotak, mereka tidak akan mengenal bernyayi, tetapi tetap tahu bagaimana kontak panggilan," kata Potvin.

Di semua situs, rata-rata burung perkotaan bernyanyi dan kontak pada frekuensi yang lebih tinggi dari sepupu mereka di pedesaan. Hipster kota bernyanyi pada kisaran 195 hertz lebih tinggi dan kontak 90 hertz lebih tinggi.

"Ini sedikit mengejutkan. Kota mendorong burung-burung melakukan evolusi," kata Potvin melapor ke Proceedings of the Royal Society B.

Burung-burung kota juga menyanyikan lagu-lagu lambat dan suku kata lebih sedikit per detik. Menurut Potvin, ini bisa jadi karena suara terpantul bangunan yang membuat lagu kurang jelas dan lebih lama jeda antar suku kata agar suara mereka lebih mudah untuk dipahami.

Potvin berspekulasi burung yang tidak beradaptasi tidak akan didengar oleh calon pasangan dan karena itu tidak dapat berkembang biak. Ada juga kemungkinan burung memiliki kesulitan melindungi anak mereka atau hidup sampai usia reproduksi.

"Kita tidak bisa mengecualikan adaptasi," kata Hans Slabbekoorn, biolog perilaku dari Leiden University di Belanda, yang mengkhususkan diri meneliti kicau burung. Tetapi kemungkinan kontak burung lebih fleksibel daripada yang diperkirakan sebelumnya yaitu Silvereyes mungkin hanya akan menelepon keras dalam kondisi ribut, kata Slabbekoorn.
Geographically pervasive effects of urban noise on frequency and syllable rate of songs and calls in silvereyes (Zosterops lateralis)

Penulis :

Dominique A. Potvin1
Kirsten M. Parris2
Raoul A. Mulder1

Afiliasi :
  1. Department of Zoology, University of Melbourne, Melbourne 3010, Australia
  2. School of Botany, University of Melbourne, Melbourne 3010, Australia
DOI:10.1098/rspb.2010.2296
Penerbit:Proceedings of the Royal Society B
Edisi/Tanggal:January 5, 2011
Download:(maaf link kami disable)
Artikel Terkait :

Dominique Potvin http://www.zoology.unimelb.edu.au/research/groups/animal/labs/stuart-fox/index.php?576,9
Hans Slabbekoorn http://www.science.leidenuniv.nl/index.php/ibl/slabbekoorn
Lerderderg State Park http://www.parkweb.vic.gov.au/1park_display.cfm?park=130

Credit : En Wikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/Silvereye

Artikel Lainnya: