KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Minggu, 09 Januari 2011

Ecological Niche Tiga Spesies Burung Penguin dan Imperial Shags di New Island

Jurnal KeSimpulan.com - Masyarakat burung penguin berkerumun dan saling berdesakan. Jika ingin banyak makanan, bagaimana burung laut berbagi di dalam habitatnya?

Burung laut makan dengan menyelam sehingga berbeda secara spasial dan temporal, baik di dalam maupun antar spesies. Ketika berbagai spesies burung laut berbagi habitat dengan sumber makanan yang terbatas, mereka harus memiliki kebiasaan makan yang berbeda. Spesialisasi ini disebut oleh para biolog dengan "ecological niche".

Tim peneliti dari Max Planck Institute for Ornithology di Radolfzell ingin mengetahui bagaimana fleksibelitas tersebut di ceruk ekologis. Mereka menemukan kebiasaan para burung laut memangsa dengan menyelam yang sangat berbeda, baik di lokasi dan waktu, maupun di dalam spesies yang sama serta antar spesies yang berbeda.

Relung ekologis tidak fleksibel, sehingga mereka dipengaruhi oleh habitat yang berbeda dan kebutuhan untuk menghindari persaingan dengan tetangga atau menghindari pemangsa, juga mengakibatkan berbagai bentuk perilaku dalam suatu spesies tunggal.

Burung laut merupakan spesies yang baik untuk menjawab pertanyaan bagaimana terbatasnya saham pasokan makanan di habitatnya. Burung laut harus hidup di darat selama musim kawin dan selama periode ini mereka harus berbagi ruang dan makanan dengan hewan lainnya.

Burung-burung berkembang biak di koloni bersarang, sering di ruang terbatas untuk berlindung dari predator yang secara luas di seluruh laut lepas pantai. Induk burung harus meninggalkan koloni untuk mencari makanan dan kemudian kembali ke pulau-pulau untuk memberi makan anak mereka.

Para ilmuwan ingin tahu bagaimana beberapa spesies mampu berkembang biak bersama di sebuah pulau dan apa sebenarnya yang membedakan relung ekologis mereka. Menggunakan GPS-depth loggers yang memungkinkan para ilmuwan untuk melacak burung secara rinci dalam tiga dimensi, peneliti di masa lalu telah menemukan area berburu dan kedalaman beberapa burung laut saat menyelam, seperti penguin dan Cormorant, tetapi selalu hanya untuk satu koloni sampel. Sampai saat ini tidak diketahui apakah data ini dapat ditransfer ke seluruh spesies.

Di New Island, Kepulauan Faulkland di Samudera Atlantik selatan, para ilmuwan Max Planck Institute for Ornithology menggunakan GPS-depth loggers untuk menyelesaikan studi komprehensif kebiasaan perburuan empat burung laut menyelam yaitu tiga spesies penguin (Gentoo penguins, Rock Hopper penguins and Magellan penguins) dan Imperial shags. Selain itu peneliti membandingkan dua koloni masing-masing dari tiga spesies pinguin.

"Hasilnya mengejutkan. Berdasarkan teori ecological niche yang kita prediksi khususnya perbedaan yang kuat antar spesies. Namun data menunjukkan bahwa distribusi spasial dan temporal burung dalam spesies juga bisa berbeda jauh" kata Juan Masello, biolog dari Max Planck Institute, melapor ke Ecosphere, 20 December lalu.

Penguin Magellan, misalnya, menggunakan area berburu sekitar 40 kilometer terpisah dengan yang lain, sedangkan dua koloni hanya terpisah 2 kilometer. Sebaliknya, salah satu koloni penguin Gentoo sering berburu di malam hari, sedangkan koloni burung tetangga lainnya berburu hanya di siang hari.

"Dengan cara ini, koloni-koloni menghindari tumpang tindih dalam area makan dan perbedaan skala kecil yang dimanfaatkan secara efektif, " kata Petra Quillfeldt, biolog juga dari Max Planck Institute.

Dalam koloni Imperial shags, betina dan pria berburu baik di tempat dan waktu yang berbeda. Pagi hari, betina pergi berburu di dekat pantai dan pada siang hari perburuan oleh pejantan di laut terbuka. Dengan demikian, berbagai jenis burung laut menemukan solusi yang berbeda untuk menghindari bersaing dengan spesies mereka sendiri untuk makanan.

"Tentu saja, makanan bukan satu-satunya faktor yang menentukan distribusi burung di sekitar pulau. Dua dari spesies penguin, sangat jelas bahwa hewan menghindari berenang di dekat koloni anjing laut di mana mereka bisa menjadi mangsa di zona berbahaya ini juga memberikan kontribusi terhadap pemisahan spasial burung di laut," kata Quillfeldt.

Ini adalah kajian komprehensif pertama yang menunjukkan relung ekologis dalam suatu spesies serta antar spesies, selama periode waktu yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa spesies burung laut yang berbeda, serta koloni dari spesies yang sama, berbeda perilaku dalam distribusi temporal dan spasial dan mereka mencari makanan di berbagai wilayah laut yang berjauhan dan pada kedalaman dan suhu yang berbeda.

The ecological niches dari spesies yang dipelajari jauh lebih fleksibel daripada yang diperkirakan sebelumnya. Bahkan perbedaan kecil di habitat atau perilaku serta kebutuhan untuk menghindari persaingan atau predator berkontribusi untuk spesialisasi ini.
Diving seabirds share foraging space and time within and among species

Penulis :

Juan F. Masello1
Roger Mundry2
Maud Poisbleau1,4
Laurent Demongin1,4
Christian C. Voigt3
Martin Wikelski1
Petra Quillfeldt1

Afiliasi :
  1. Max Planck Institute for Ornithology, Vogelwarte Radolfzell, Schlossallee 2, D-78315, Radolfzell, Germany
  2. Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Deutscher Platz 6, D-04103, Leipzig, Germany
  3. Evolutionary Ecology Research Group, Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research, Alfred-Kowalke-Strasse 17, D-10315, Berlin, Germany
DOI:10.1890/ES10-00103.1
Penerbit:Ecosphere
Edisi/Tanggal:1:art19, Vol.1, Issue 6 (December 2010)
Download:Full Text (PDF) + Movie
Artikel Terkait :

Max Planck Institute for Ornithology http://www.orn.mpg.de/

Artikel Lainnya:

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Jurnal Sains