Pages

Scan Otak Inferior Frontal Gyrus Dinamika Neurobiologi Anak Disleksia

Jurnal KeSimpulan.com - Membaca otak penderita disleksia (dyslexia). Scan otak menegaskan dinamika neurobiologi disleksia bukan merupakan cetakan dari langit.

Bagi anak-anak disleksia, membaca tidak datang secara alami dan hanya 20% dari mereka tumbuh menjadi pembaca normal setelah dewasa. Tidak ada yang tahu mengapa hal ini terjadi dan tes membaca standar tidak dapat memprediksi anak-anak akan mengatasi masalah membaca mereka. Tetapi scan otak bisa. Demikian laporan sebuah studi baru.

Para peneliti mengatakan temuan memberikan petunjuk tentang neurobiologi disleksia dan suatu hari nanti membantu pendidik mengidentifikasi siswa.

Fumiko Hoeft, neurosains dari Stanford University di Palo Alto, California, dan rekannya menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk meneliti aktivitas otak selama membaca pada 45 anak-anak berumur 7-16 tahun di antaranya 25 positif disleksia. Setelah 2,5 tahun kemudian, anak-anak yang sama kembali ke lab untuk dites membaca standar.

Kemudian peneliti kembali ke scan otak untuk melihat apakah ada perbedaan dari anak-anak disleksia. Dan memang ada, anak-anak telah melihat pasangan kata-kata yang muncul di layar dan diminta untuk menunjukkan apakah mereka berirama. Anak dengan disleksia memakan waktu lebih lama dan membuat lebih banyak kesalahan terutama ketika ejaan seperti "gate" dan "bait".

Untuk menganalisis aktivitas otak yang ditimbulkan oleh tugas ini, Hoeft menggunakan metode yang disebut analisis pola multivariat yaitu teknik statistik untuk membandingkan pola aktivasi di seluruh otak. Pola diprediksi dengan akurasi 92% pada anak-anak disleksia di atas atau di bawah rata-rata dalam membaca selama 2,5 tahun ke depan, para peneliti melapor ke Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Perbedaan dalam membaca tidak dapat dijelaskan dengan bimbingan dan jenis terapi pemulihan membaca lainnya, Hoeft kata. Para peneliti tidak menemukan korelasi antara partisipasi dalam program membaca dan manfaat kecakapan membaca. Selain itu 17 tes membaca dan bahasa konvensional juga gagal untuk memprediksi kemajuan dalam membaca.

Ini temuan sangat mengesankan, kata Rajeev Raizada, neurosains dari Dartmouth College. Menggunakan scan otak untuk menegakkan diagnosis dan prediksi perilaku terlihat lebih akurat daripada menggunakan tes konvensional, temuan harus menjadi prioritas utama bagi para ahli saraf, kata Raizada.

Dalam eksperimen tambahan, para peneliti Stanford menemukan petunjuk tentang bagaimana perbedaan otak anak-anak disleksia yang menunjukkan perbaikan besar dalam membaca. Misalnya, aktivitas lebih besar pada inferior frontal gyrus (IFG) kanan selama tugas membaca berirama. Studi sebelumnya telah menemukan bahwa mitra daerah ini yaitu di sisi kiri kurang aktif pada anak disleksia, kata Hoeft. Peningkatan aktivasi di IFG kanan mungkin mencerminkan kompensasi defisit di sisi kiri otak yang biasanya memainkan peran yang lebih besar dalam bahasa.

Tipe lain dari scan menyarankan bahwa anak-anak disleksia dengan konektivitas lebih tinggi antar wilayah otak pada sisi kanan menjadi lebih mampu mengatasi defisit mereka. Temuan menunjukkan bahwa anak-anak yang entah bagaimana mampu menggeser fungsi bahasa dari sisi kiri ke sisi kanan otak menjadi lebih mampu mengatasi defisit membaca mereka, kata Hoeft.

Hoeft berharap perbaikan metode ini suatu hari akan menciptakan tes yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi siswa yang paling membutuhkan bantuan dan bahkan menentukan jenis intervensi yang paling mungkin. Ini mungkin masih jauh, kata Raizada yang mencatat pentingnya mereplikasi temuan dalam populasi yang lebih besar dan anak-anak disleksia yang lebih beragam.

Tetapi, "ini studi yang meletakkan dasar untuk menunjukkan bahwa disleksia bukan kue yang jatuh dari langit," kata Hoeft.
Neural systems predicting long-term outcome in dyslexia

Penulis :

Fumiko Hoeft1,2
Bruce D. McCandliss3
Jessica M. Black1,4
Alexander Gantman1
Nahal Zakerani1
Charles Hulme5
Heikki Lyytinen6
Susan Whitfield-Gabrieli7
Gary H. Glover8
Allan L. Reiss1,2,8
John D. E. Gabrieli8

Afiliasi :
  1. Center for Interdisciplinary Brain Sciences Research, Department of Psychiatry and Behavioral Sciences, Stanford University School of Medicine, Stanford, CA 94129
  2. Department of Psychiatry and Behavioral Sciences, Stanford University School of Medicine, Stanford, CA 94129
  3. Department of Psychology and Human Development, Vanderbilt University, Nashville, TN 37203
  4. Graduate School of Social Work, Boston College, Chestnut Hill, MA 02467
  5. Department of Psychology, University of York, York Y010 5DD, United Kingdom
  6. Department of Psychology, University of Jyväskylä, 40351 Jyväskylä, Finland
  7. Department of Brain and Cognitive Sciences, Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, MA 02139
  8. Department of Radiology, Stanford University School of Medicine, Stanford, CA 94305
DOI:10.1073/pnas.1008950108
Penerbit:Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS)
Edisi/Tanggal:PNAS December 20, 2010
Download:Full Text (PDF) + Supporting Information
Artikel Terkait : Cari Artikel Terkait

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment