NEWSJURNALMULTIMEDIA

Laporan Jurnal
Acta Paediatrica
Acta Palaeontologica Polonica
Advanced Materials
AGE
Aging Research
Am J Tropical Med and Hyg
Am Chemical Society
Am Human Genetics
Am J of Botany
Am J of Human Biology
Am J of Physiology
Am Medical Association
Am Naturalist
Am Physical Anthropology
Am Sociological Review
Angewandte Chemie Int Ed
Anatomical Record
Animal Ecology
Applied Physics A
Aquatic Biology
Aquatic Biosystems
Archives of General Psychiatry
Archives of Internal Medicine
arXiv
Astronomy and Astrophysics
Astrophysical J
Atmos Chem Phys
Atmos Chem Phys Discus
Behavioral Eco and Sociobio
Bioacoustics
Biogeography
Biogeosciences
Biology Letters
Biology of Reproduction
Biomedical Optics Express
BMC Biology
BMC Ecology
BMC Evolutionary Biology
BMC Plant Biology
Brain
British J of Pharmacology
British Medical J
British Medical J Open
Cancer
Cell
Cell Biology
Cell Host and Microbe
Cell Reports
Cellular Microbiology
Chaos
Circulation
Circulation Research
Clinical Investigation
Cognitive Psychology
Cognition and Emotion
Comparative Physiology A
Conservation Biology
Conservation Genetics
Coral Reefs
Cryosphere Discuss
Current Anthropology
Current Biology
Dermatologic Clinics
Diabetes
Diabetes Care
Diversity and Distributions
Ecography
Ecology and Evolution
Ecology Letters
Economics Research Inter
Ecosphere
Emerging Infectious Diseases
Environ Health Perspect
Environ Research Letters
Eukaryotic Microbiology
European Epidemiology
European of Social Psychology
Evolutionary Applications
Evolutionary Biology
Experimental Astronomy
Experimental Biology
Experimental Medicine
Experimental Zoology Part A
Financial Mathematics
Frontiers Comp Psychology
Frontiers in Zoology
Functional Ecology
Genome Biology
Genome Research
Geophysical Research Letters
Heredity
Human Genetics
Hymenoptera Research
Inter J of Biometeorology
Inter J of Ecology
Inter J of Myriapodology
Inter J of Primatology
Inter J of Social Robotics
ISME
J Defense Mod and Sim
J of Applied Ecology
Langmuir
Marine Ecology Progress Series
Marine Mammal Science
mBio
Microbiome
Medical Microbiology
Molecular Biology and Evolution
Molecular Ecology
Molecular Pain
Molecular Psychiatry
Molecular Systems Biology
Molecular Therapy
Monthly Notices of the RAS
Nature
Nature Climate Change
Nature Communications
Nature Neuroscience
Nature Physics
Neural Engineering
New England J of Medicine
New J of Physics
New Phytologist
Nonlinearity
Nucleic Acids Research
Obesity
Open Biology
Optics Express
Pediatrics
Philosophical Transactions A
Philosophical Transactions B
Physics in Medicine and Biology
PLoS ONE
PLoS Biology
PLoS Genetics
PLoS Medicine
PLoS Pathogens
PLoS Computational Biology
PLoS Neglected Tropical Diseases
PNAS
Polar Biology
Primates
Proc of the Royal Society B
Psychological Science
Rapid Comm in Mass Spectrometry
Remote Sensing
Reports on Progress in Physics
Royal Society Interface
Sexual Health
Science
Science Translational Medicine
Scientific Reports
Significance
Social Psycho and Pers Sci
Social Sci. Research Network
Stem Cells
Synesis
Systematic Palaeontology
Translational Psychiatry
Tropical Medicine and Hygiene
Ultrasound Obstetrics and Gyne.
Vertebrate Paleontology
Visualized Experiments
Wildlife Diseases
ZooKeys
Zoological of the Linnean Society
Zootaxa
# Data Base



Apa DOI?
Cari Artikel
Langganan

Jumat, 24 Desember 2010

Gajah Afrika Dibelah Jadi Loxodonta africana dan Loxodonta cyclotis

Jurnal KeSimpulan.com - Para peneliti mengusulkan untuk membelah Gajah Afrika menjadi dua spesies yang memang sudah berstatus cerai sekitar 3 juta tahun yang lalu.

Sulit dan membingungkan gajah hutan dan gajah savana Afrika. Gajah hutan ditemukan di hutan lebat Afrika Barat telah lama dengan gading tegak dan bulat, tidak menunjuk dan telinga khas. Mereka juga 1 meter lebih pendek dan memiliki berat badan setengah dari gajah savana yang bermukim dari Selatan ke Afrika Timur. Namun selama bertahun-tahun, para ilmuwan mengklasifikasi keduanya sebagai spesies yang sama dengan alasan perbedaan populasi yang campur aduk di tepi hutan.

Studi genetik baru, bagaimanapun, menemukan bahwa gajah hutan dan savana berbeda satu sama lain seperti gajah Asia modern dari mammoth purba. Hasil temuan membelah mereka menjadi dua spesies gajah, memberi banyak manfaat untuk konservasi gajah Afrika secara keseluruhan, kata para peneliti.

Studi ini bukan yang pertama dalam menganalisis DNA gajah. Pada tahun 2001, peneliti membandingkan sekuens DNA mitokondria (mtDNA) gajah hutan dan gajah savana (mtDNA hanya diwarisi dari ibu dan ditemukan dalam mitokondria atau pabrik energi sel). Penelitian selanjutnya melakukan sekuens DNA nuklir yang menyimpulkan kedua gajah telah memisahkan diri lebih dari 3 juta tahun yang lalu. Tetapi hasil studi tidak mengoyahkan pandangan para ilmuwan taksonomi.

Banyak penelitian menggunakan mtDNA untuk menentukan apakah suatu penunjukan spesies berlaku. Tetapi mtDNA memiliki keterbatasan yaitu hanya mewakili sebagian kecil genome (sisanya DNA nuklir), karena hanya diwariskan dari ibu karenanya hanya mengungkap sejarah genetik perempuan.

Untuk menyelesaikan perdebatan, tim peneliti internasional sekali lagi membandingkan DNA nuklir. Tetapi kali ini, mereka menganalisis sejumlah besar sekuens DNA nuklir dari masing-masing individu tiga kelompok gajah yang ada (gajah Asia, gajah hutan Afrika dan gajah savana Afrika) dan dari dua spesies gajah yang telah punah (mammoth dan mastodon). Ini pertama kalinya para ilmuwan melakukan sekuens genome nuklir mastodon dan pertama kalinya bahwa DNA nuklir lima spesies dibandingkan.

"Ini tantangan besar untuk mengekstrak urutan DNA dari fosil mammoth dan mastodon dan kemudian digaris dengan DNA gajah modern," kata Nadin Rohland, genetikawan evolusi dari Harvard Medical School di Boston.

Hasil penelitian yang dilaporkan ke PLoS Biology ini akhirnya harus dapat meyakinkan para ilmuwan yang skeptis. Mereka memperkuat temuan DNA nuklir sebelumnya dan menunjukkan bahwa gajah savana dan gajah hutan telah berpisah antara 1,9 juta hingga 6,7 juta tahun yang lalu. Gajah Asia dan mammoth berbulu juga mulai divergen kemudian.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa spesies secara mengejutkan menemukan jumlah keanekaragaman genetik. Gajah savanna dan mammoth berbulu memiliki keanekaragaman sangat rendah, sedangkan keragaman genetik gajah hutan sangat tinggi, gajah Asia berada di tengahnya.

Perbedaan mungkin tercermin dari perilaku sosial gajah, kata Alfred Roca, genetikawan konservasi dari University of Illinois di Urbana-Champaign, juga anggota tim. "Di savana, gajah laki-laki mendominasi perkawinan. Didasarkan pada apa yang kita lihat, mammoths berbulu harus berkompetisi agar dapat kawin," kata Roca.

Tim berpikir ini menjelaskan hasil mtDNA sebelumnya yang menunjukkan bahwa beberapa gajah hutan berbagi nenek moyang ibu dengan gajah savana pada 500.000 tahun yang lalu. Karena laki-laki savana lebih besar, mereka mungkin outcompete dari hutan ke savana di mana dua kelompok gajah tumpang tindih, efektif menghapus sejarah genetik mereka.

Jika kesimpulan ini diterima oleh African Specialist Group of the International Union for Conservation Nature (IUCN), gajah Afrika (Loxodonta africana) dapat dibagi menjadi dua spesies yaitu L. Africana bagi mereka yang tinggal di savana dan L. Cyclotis bagi mereka di hutan. Saat ini keduanya diklasifikasikan sebagai subspesies yaitu L. africana africana dan L. africana cyclotis.

"Ini pekerjaan yang indah dan merupakan langkah maju dalam pemahaman kita tentang gajah," kata Robert Fleischer, genetikawan dari Smithsonian Institution di Washington, DC.

"Seperti tour de force dengan konsekuensi langsung untuk konservasi gajah," kata Sergios-Orestis Kolokotronis, genetikawan konservasi dari American Museum of Natural History di New York City.

Karena para pemburu gajah menebangi hutan, walaupun gajah Afrika terdaftar sebagai spesies terancam punah dengan jumlah 500.000 hingga 600.000 tersisa di alam, beberapa negara Afrika terus berusaha untuk melegalkan perdagangan taring gading. Jika gajah hutan yang jumlahnya kurang lebih 20.000 diakui sebagai spesies terpisah, mereka mungkin akan lebih memberikan perlindungan, "mungkin memiliki kesempatan untuk berjuang," kata Samuel Wasser, biolog konservasi dari University of Washington di Seattle.

Diane Skinner, juru bicara African Elephant Specialist Group di Nairobi, Kenya, mengatakan mereka mempelajari studi baru. Tetapi untuk sekarang, status gajah tetap tidak berubah.
Genomic DNA Sequences from Mastodon and Woolly Mammoth Reveal Deep Speciation of Forest and Savanna Elephants

Penulis :

Nadin Rohland1,2,3
David Reich1,2
Swapan Mallick1,2
Matthias Meyer3
Richard E. Green3,4
Nicholas J. Georgiadis5
Alfred L. Roca6
Michael Hofreiter3,7

Afiliasi :
  1. Department of Genetics, Harvard Medical School, Boston, Massachusetts, United States of America
  2. Broad Institute of MIT and Harvard, Cambridge, Massachusetts, United States of America
  3. Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Leipzig, Germany
  4. Department of Biomolecular Engineering, University of California, Santa Cruz, United States of America
  5. Director of Conservation, Ishawooa Mesa Ranch, Cody, Wyoming, United States of America
  6. Department of Animal Sciences and Institute for Genomic Biology, University of Illinois at Urbana-Champaign, Urbana, Illinois, United States of America
  7. Department of Biology, University of York, York, United Kingdom
DOI:10.1371/journal.pbio.1000564
Penerbit:PLOS Biology
Edisi/Tanggal:PLoS Biol 8(12): e1000564, December 21, 2010
Download:Full Text (PDF) + Supporting Information (Ds1 + Ds2 + Ds3 + Fig1 + Fig2 + Fig3 + Tab1 + Tab2 + Tab3 + Tex1 + Tex2 + Tex3 + Tex4 + Tex5)
Artikel Terkait :

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar