KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Jumat, 24 Desember 2010

Gajah Afrika Dibelah Jadi Loxodonta africana dan Loxodonta cyclotis

Jurnal KeSimpulan.com - Para peneliti mengusulkan untuk membelah Gajah Afrika menjadi dua spesies yang memang sudah berstatus cerai sekitar 3 juta tahun yang lalu.

Sulit dan membingungkan gajah hutan dan gajah savana Afrika. Gajah hutan ditemukan di hutan lebat Afrika Barat telah lama dengan gading tegak dan bulat, tidak menunjuk dan telinga khas. Mereka juga 1 meter lebih pendek dan memiliki berat badan setengah dari gajah savana yang bermukim dari Selatan ke Afrika Timur. Namun selama bertahun-tahun, para ilmuwan mengklasifikasi keduanya sebagai spesies yang sama dengan alasan perbedaan populasi yang campur aduk di tepi hutan.

Studi genetik baru, bagaimanapun, menemukan bahwa gajah hutan dan savana berbeda satu sama lain seperti gajah Asia modern dari mammoth purba. Hasil temuan membelah mereka menjadi dua spesies gajah, memberi banyak manfaat untuk konservasi gajah Afrika secara keseluruhan, kata para peneliti.

Studi ini bukan yang pertama dalam menganalisis DNA gajah. Pada tahun 2001, peneliti membandingkan sekuens DNA mitokondria (mtDNA) gajah hutan dan gajah savana (mtDNA hanya diwarisi dari ibu dan ditemukan dalam mitokondria atau pabrik energi sel). Penelitian selanjutnya melakukan sekuens DNA nuklir yang menyimpulkan kedua gajah telah memisahkan diri lebih dari 3 juta tahun yang lalu. Tetapi hasil studi tidak mengoyahkan pandangan para ilmuwan taksonomi.

Banyak penelitian menggunakan mtDNA untuk menentukan apakah suatu penunjukan spesies berlaku. Tetapi mtDNA memiliki keterbatasan yaitu hanya mewakili sebagian kecil genome (sisanya DNA nuklir), karena hanya diwariskan dari ibu karenanya hanya mengungkap sejarah genetik perempuan.

Untuk menyelesaikan perdebatan, tim peneliti internasional sekali lagi membandingkan DNA nuklir. Tetapi kali ini, mereka menganalisis sejumlah besar sekuens DNA nuklir dari masing-masing individu tiga kelompok gajah yang ada (gajah Asia, gajah hutan Afrika dan gajah savana Afrika) dan dari dua spesies gajah yang telah punah (mammoth dan mastodon). Ini pertama kalinya para ilmuwan melakukan sekuens genome nuklir mastodon dan pertama kalinya bahwa DNA nuklir lima spesies dibandingkan.

"Ini tantangan besar untuk mengekstrak urutan DNA dari fosil mammoth dan mastodon dan kemudian digaris dengan DNA gajah modern," kata Nadin Rohland, genetikawan evolusi dari Harvard Medical School di Boston.

Hasil penelitian yang dilaporkan ke PLoS Biology ini akhirnya harus dapat meyakinkan para ilmuwan yang skeptis. Mereka memperkuat temuan DNA nuklir sebelumnya dan menunjukkan bahwa gajah savana dan gajah hutan telah berpisah antara 1,9 juta hingga 6,7 juta tahun yang lalu. Gajah Asia dan mammoth berbulu juga mulai divergen kemudian.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa spesies secara mengejutkan menemukan jumlah keanekaragaman genetik. Gajah savanna dan mammoth berbulu memiliki keanekaragaman sangat rendah, sedangkan keragaman genetik gajah hutan sangat tinggi, gajah Asia berada di tengahnya.

Perbedaan mungkin tercermin dari perilaku sosial gajah, kata Alfred Roca, genetikawan konservasi dari University of Illinois di Urbana-Champaign, juga anggota tim. "Di savana, gajah laki-laki mendominasi perkawinan. Didasarkan pada apa yang kita lihat, mammoths berbulu harus berkompetisi agar dapat kawin," kata Roca.

Tim berpikir ini menjelaskan hasil mtDNA sebelumnya yang menunjukkan bahwa beberapa gajah hutan berbagi nenek moyang ibu dengan gajah savana pada 500.000 tahun yang lalu. Karena laki-laki savana lebih besar, mereka mungkin outcompete dari hutan ke savana di mana dua kelompok gajah tumpang tindih, efektif menghapus sejarah genetik mereka.

Jika kesimpulan ini diterima oleh African Specialist Group of the International Union for Conservation Nature (IUCN), gajah Afrika (Loxodonta africana) dapat dibagi menjadi dua spesies yaitu L. Africana bagi mereka yang tinggal di savana dan L. Cyclotis bagi mereka di hutan. Saat ini keduanya diklasifikasikan sebagai subspesies yaitu L. africana africana dan L. africana cyclotis.

"Ini pekerjaan yang indah dan merupakan langkah maju dalam pemahaman kita tentang gajah," kata Robert Fleischer, genetikawan dari Smithsonian Institution di Washington, DC.

"Seperti tour de force dengan konsekuensi langsung untuk konservasi gajah," kata Sergios-Orestis Kolokotronis, genetikawan konservasi dari American Museum of Natural History di New York City.

Karena para pemburu gajah menebangi hutan, walaupun gajah Afrika terdaftar sebagai spesies terancam punah dengan jumlah 500.000 hingga 600.000 tersisa di alam, beberapa negara Afrika terus berusaha untuk melegalkan perdagangan taring gading. Jika gajah hutan yang jumlahnya kurang lebih 20.000 diakui sebagai spesies terpisah, mereka mungkin akan lebih memberikan perlindungan, "mungkin memiliki kesempatan untuk berjuang," kata Samuel Wasser, biolog konservasi dari University of Washington di Seattle.

Diane Skinner, juru bicara African Elephant Specialist Group di Nairobi, Kenya, mengatakan mereka mempelajari studi baru. Tetapi untuk sekarang, status gajah tetap tidak berubah.
Genomic DNA Sequences from Mastodon and Woolly Mammoth Reveal Deep Speciation of Forest and Savanna Elephants

Penulis :

Nadin Rohland1,2,3
David Reich1,2
Swapan Mallick1,2
Matthias Meyer3
Richard E. Green3,4
Nicholas J. Georgiadis5
Alfred L. Roca6
Michael Hofreiter3,7

Afiliasi :
  1. Department of Genetics, Harvard Medical School, Boston, Massachusetts, United States of America
  2. Broad Institute of MIT and Harvard, Cambridge, Massachusetts, United States of America
  3. Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Leipzig, Germany
  4. Department of Biomolecular Engineering, University of California, Santa Cruz, United States of America
  5. Director of Conservation, Ishawooa Mesa Ranch, Cody, Wyoming, United States of America
  6. Department of Animal Sciences and Institute for Genomic Biology, University of Illinois at Urbana-Champaign, Urbana, Illinois, United States of America
  7. Department of Biology, University of York, York, United Kingdom
DOI:10.1371/journal.pbio.1000564
Penerbit:PLOS Biology
Edisi/Tanggal:PLoS Biol 8(12): e1000564, December 21, 2010
Download:Full Text (PDF) + Supporting Information (Ds1 + Ds2 + Ds3 + Fig1 + Fig2 + Fig3 + Tab1 + Tab2 + Tab3 + Tex1 + Tex2 + Tex3 + Tex4 + Tex5)
Artikel Terkait :

Artikel Lainnya:

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Jurnal Sains