Pages

Puing-puing Trinitite Sisa Ledakan Untuk Forensik Nuklir

Jurnal KeSimpulan.com - Kelompok teroris berhasil mendapatkan bahan nuklir, membuat bom dan menonaktifkannya di pusat kota di suatu tempat.

Apakah fragmen yang tersisa memberi petunjuk siapa yang melakukannya atau dari mana datangnya bahan fissile tersebut? Tes pada residu ledakan nuklir pertama di dunia menyarankan kemungkinan dapat menjawabnya. Jika seseorang meluncurkan serangan rudal nuklir, sistem radar secara cepat dapat menetukan dari mana dan ke mana rudal terbang sehingga dapat segera dihentikan. Tetapi teror serangan bom diluncurkan menggunakan truk atau sepeda (di dalam kota seperti di Jakarta), maka asal-usulnya menjadi lebih sulit untuk dilacak.

Pada tahun 2009, peneliti dari Institute for Transuranium Elements di Karlsruhe, Jerman, menunjukkan ketika material nuklir diselundupkan dapat dicegat, sumber bisa dideduksi dari rincian komposisinya. Tetapi informasi gleaning forensic dari bom nuklir yang telah meledak adalah hal yang berbeda.

Untuk mengetahui informasi apa yang mungkin tersedia, Albert Fahey, fisikawan dari US National Institute of Standards and Technology di Gaithersburg, Maryland, dan timnya mempelajari unsur-unsur dan berbagai rasio isotop di puing-puing uji coba nuklir yang pertama dilakukan di dunia yaitu pada 16 Juli 1945 di situs Trinity, gurun New Mexico. Ledakan melelehkan pasir dan menjadi padat membentuk kaca kehijauan yang dijuluki "trinitite". Tim Fahey menganalisis sepotong 3 sentimeter material ini.

Hasil awal terbukti menjanjikan. "Anda dapat mengurutkan dari mulai mencari tahu elemennya yang memungkinkan dapat melacak mereka ke sumbernya," kata Fahey.

Satu fakta dasar yang ditujukkan dari trinitite yaitu apakah senjata ini berbasis plutonium atau uranium. Beberapa negara menghasilkan material bom ini hanya salah satunya dan tidak ada keduanya sekaligus, ini bisa membantu mempersempit daftar sumber yang mungkin. Trinity bomb terbuat dari plutonium dan tim Fahey menemukan elemen dalam jumlah hingga 400 bagian per miliar di dalam trinitite tersebut.

Pertanyaan lebih menarik yaitu apakah fragmen bisa untuk melacak dimana bom dibuat berdasarkan rasio isotop plutonium di dalamnya. Mengetahui hal ini dapat membantu mengidentifikasi asal-usulnya dan mencegah lebih banyak material ini jatuh ke tangan teroris. Ketika fissile isotop plutonium-239 dibuat oleh reaktor nuklir pasti terkontaminasi dengan plutonium-240 karena rasio produk dari dua isotop tersebut berbeda pada setiap reaktor.

Para peneliti juga menggunakan trinitite untuk mengetahui informasi apa yang mungkin diperoleh tentang tamper bom tersebut yaitu cangkang logam bola yang menjaga inti saat terbang sangat cepat dan mencegah reaksi nuklir sebelum bom mencapai sasaran. Tamper dapat dibuat untuk fissile non-uranium atau logam lainnya. Unsur-unsur berbeda dalam komposisi fissile isotop tergantung dari mana ditambang, sehingga bisa menawarkan petunjuk lain tentang asal-usul senjata. Tamper trinitas terbuat dari uranium isotop non-radioaktif.

Di batuan di mana plutonium ditemukan dalam konsentrasi tinggi, para peneliti menemukan jejak isotop uranium, seperti yang mereka prediksi. Pengukuran mereka tidak cukup akurat untuk menentukan asal material ditambang, tetapi peneliti mengatakan analisis yang lebih rinci mungkin menghasilkan informasi tersebut.

Logam ini diperdagangkan secara internasional, sehingga mengetahui dari mana material sebuah bom ditambang tidak akan selalu memberitahu Anda di mana dibuat, kata Tom Bielefeld, fisikawan nuklir dari Harvard University. Tetapi Bielefeld mengakui bahwa jenis petunjuk ini bisa menjadi pembuktian penting bila dikombinasikan dengan kecerdasan tradisional.

"Anda harus benar-benar mengumpulkan semua informasi yang bisa Anda dapatkan. Ini benar-benar sebuah teka-teki besar dan setiap petunjuk mungkin berharga. Laporan ini juga memberi kontribusi penting untuk kajian ilmiah yang jarang dilakukan," kata Bielefeld.


Postdetonation nuclear debris for attribution

Penulis :

A. J. Fahey1
C. J. Zeissler
D. E. Newbury,
J. Davis
R. M. Lindstrom

Afiliasi :
  1. National Institute of Standards and Technology, 100 Bureau Drive, Gaithersburg, MD 20899-6371
DOI:10.1073/pnas.1010631107
Penerbit:Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS)
Edisi/Tanggal:PNAS November 8, 2010
Download:Full Text (PDF)
Cari Artikel Terkait :
Albert Fahey ~ http://www.nist.gov/mml/surface/microscopy/bio_fahey.cfm
Tom Bielefeld ~ http://belfercenter.ksg.harvard.edu/experts/929/tom_bielefeld.html
EC JRC ~ http://ec.europa.eu/dgs/jrc/index.cfm?id=2300&obj_id=2340&dt_code=PRL

Credit Image : Trinitite Specimen Gallery (The Nuclear Weapon Archive) ~ http://nuclearweaponarchive.org

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment