Pages

Peran Parasitisme Jamur Otak dalam Proses Evolusi Serangga Sosial

Jurnal KeSimpulan.com – Mendefinikan kembali evolusi otak pada Serangga yang mengejutkan seperti tawon, lebah, dan bahkan semut yang relatif kompleks.

Mengulas kembali kapasitas otak serangga sebagai "serangga sosial" untuk melacak hubungan rumit antar ribuan individu dalam koloni mereka, begitulah pola pikir peneliti. Sebuah studi baru menunjukkan bahwa serangga ini tidak mengembangkan volume otak besar untuk skup kehidupan sosial, tetapi mereka mendapatkannya selama jutaan tahun sebelumnya ketika mereka mengevolusi sebagai parasit soliter.

Hubungan antara ukuran otak dan kehidupan sosial pertama kali diungkap pada tahun 1850, ketika ilmuwan mengidentifikasi jamur di otak serangga. Dinamakan Aptly karena mereka berbentuk seperti jamur, struktur berisi ribuan neuron yang bertanggung jawab untuk memproses dan mengingat aroma dan visual. Serangga sosial cenderung memiliki jamur lebih besar daripada sebagai serangga soliter yang membuat peneliti percaya bahwa transisi dari kehidupan soliter menjadi kehidupan sosial meningkat seiring ukuran jamur di wilayah otak.

Tetapi Sarah Farris, neurobiolog dari West Virginia University di Morgantown telah menemukan penjelasan yang berbeda. Jangankan membandingkan serangga sosial dengan serangga soliter, Farris melihat ke masa lalu. Untuk melihat bagaimana otak tawon berkembang dari waktu ke waktu, Farris dan Susanne Schulmeister, taksonom dari American Museum of Natural History di New York City membandingkan tubuh jamur parasit tawon dengan jamur nonparasit tawon yang merupakan bentuk paling tua. Parasit tawon secara konsisten lebih besar dan lebih rumit dari jamur nonparasit. Secara khusus topi yang disebut calyces pada tubuh jamur parasit adalah dua kali ukuran nonparasit.

Farris mengeluarkan poin bahwa parasitisme berevolusi 90 juta tahun sebelum serangga sosial muncul, dengan demikian "serangga memiliki jamur cukup lama sebelum muncul kehidupan bermasyarakat." Ini adalah bukti pertama parasitisme dan bukan sosialitas yang mendorong kompleksitas jamur serangga, kata Farris. Mungkin karena jamur berkembang dengan baik membantu tawon lebih baik menemukan sarang larva mereka untuk bertelur.

Francis Ratnieks, biolog evolusi dari University of Sussex di Inggris sependapat dengan temuan baru ini, tetapi Ratnieks mengatakan para peneliti perlu juga melihat otak serangga sosial, misalnya, untuk membandingkan otak lebah pekerja sosial yang mengendalikan proses sejumlah informasi visual saat terbang dari bunga ke bunga dengan tawon parasit. Jika lebah memiliki jamur bahkan lebih besar dari tawon parasit akan menunjukkan bahwa meningkatnya otak serangga sosial diwariskan oleh nenek moyang mereka.
Parasitoidism, not sociality, is associated with the evolution of elaborate mushroom bodies in the brains of hymenopteran insects

Penulis :

Sarah M. Farris1
Susanne Schulmeister2

Afiliasi :
  1. Department of Biology, West Virginia University, Morgantown, WV 26505, USA
  2. Division of Invertebrate Biology, American Museum of Natural History, New York, NY 10024, USA
DOI:10.1098/rspb.2010.2161
Penerbit:Proceedings of the Royal Society B
Edisi/Terbit:November 10, 2010
Download:Full Text (PDF) + Supporting Information
Cari Artikel Terkait :
Credit image : Figure 5, Sarah M. Farris and Susanne Schulmeister, Parasitoidism, not sociality, is associated with the evolution of elaborate mushroom bodies in the brains of hymenopteran insects, Proceedings of the Royal Society B, DOI:10.1098/rspb.2010.2161

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment