Pages

Krisis Genetik Populasi Orangutan Pongo pygmaeus Selama Pleistocene Glaciations

Jurnal KeSimpulan.com - Faunal Borneo warisan dari kelompok kecil leluhur. Pongo pygmaeus Kalimantan melewati krisis genetik selama Pleistocene glaciations.

Orangutan di Pulau Kalimantan diturunkan dari sejumlah kecil nenek moyang melalui patch kasar sekitar 176.000 tahun yang lalu, demikian analisis genetik secara luas dengan tanggal spesies mereka. Data genetik menyarankan sebuah kebuntuan populasi kuno, kata Natasha Arora, genetikawan antropologi dari University of Zurich, di mana jumlah hewan menyusut tetapi akhirnya berkembang lagi ketika kondisi membaik saat periode dingin memukul planet Bumi sekitar 190.000 hingga 130.000 tahun yang lalu.

Borneo sendiri tidak membeku, tetapi hutan hujan di mana orangutan tinggal telah menyusut yang membatasi populasi di dalamnya. "Penting untuk lebih memahami salah satu kerabat dekat kita, satu-satunya kera besar Asia," kata Arora. Orangutan pada hari ini hanya hidup di Kalimantan dan Sumatra dalam dua spesies yang keduanya terancam punah, menjalani proses menyimpang beberapa juta tahun yang lalu.

Temuan genetik baru yang sangat mengejutkan tentang perpisahan kuno. Peristiwa yang benar-benar penting kira-kira 170.000 tahun yang lalu, kata Lounès Chikhi, genetikawan populasi di Toulouse, Prancis, dengan lembaga penelitian CNRS. Bagaimanapun, krisis genetik tidak seperti gibbon dan spesies kera yang hidup bersama yaitu Pongo pygmaeus di Borneo.

Setidaknya satu primata lainnya mungkin memiliki sejarah yang mirip dengan orangutan Borneo. "Ada yang aneh secara paralel dengan evolusi manusia," kata Chikhi. Kalkulasi genetika bagi manusia modern saat satu nenek moyang adalah 170.000 tahun yang lalu. Chikhi bertanya-tanya, "Apa yang terjadi antara 150.000 dan 200.000 tahun yang lalu yang berdampak Homo sapiens dan Pongo pygmaeus?"

Bukti krisis orangutan muncul berkat kerja sama dari 17 peneliti yang mengumpulkan sampel kotoran dan rambut 211 orangutan liar di 12 lokasi penelitian. Sebelumnya, analisis lebih kecil menentukan tanggal leluhur umum orangutan di Kalimantan lebih jauh lagi yaitu sekitar 860.000 tahun yang lalu. Arora mengatakan, sekarang para peneliti telah memperbarui metode sekuens untuk sampel tua dan menambahkan yang baru.

Sejarah Orangutan adalah kompleks, kata Erik Meijaard, genetikawan konservasi dari perusahaan berbasis di Jakarta yaitu People & Nature Consulting International. Sebuah krisis mungkin menjadi penjelasan yang paling mudah untuk leluhur bersama, kata Meijaard. Tetapi beberapa skenario lebih kompleks yang melibatkan kepunahan dan repopulasi mungkin juga sesuai dengan data.
Effects of Pleistocene glaciations and rivers on the population structure of Bornean orangutans (Pongo pygmaeus)

Penulis :

Natasha Arora1
Alexander Nater1
Carel P. van Schaik1
Erik P. Willems1
Maria A. van Noordwijk1
Benoit Goossens2,3
Nadja Morf1
Meredith Bastian4,5
Cheryl Knott4
Helen Morrogh-Bernard6
Noko Kuze7
Tomoko Kanamori8
Joko Pamungkas9
Dyah Perwitasari-Farajallah9
Ernst Verschoor10
Kristin Warren11
Michael Krützen1

Afiliasi :
  1. Anthropological Institute and Museum, University of Zurich, 8057 Zurich, Switzerland
  2. Cardiff School of Biosciences, Cardiff University, Cardiff CF10 3AX, United Kingdom
  3. Sabah Wildlife Department, 88100 Kota Kinabalu, Malaysia
  4. Department of Anthropology, Boston University, Boston, MA 02215
  5. Philadelphia Zoo, Philadelphia, PA 19104
  6. Anatomy School, University of Cambridge, Cambridge CB2 3DY, United Kingdom
  7. Department of Zoology, Kyoto University, Kyoto 606-8502, Japan
  8. Tokyo Institute of Technology, Tokyo 152-8550 Japan
  9. Indonesian Primate Centre, Bogor Agricultural University, Bogor 16680, Indonesia
  10. Biomedical Primate Research Centre, Rijswijk, 2280, The Netherlands
  11. School of Veterinary and Biomedical Sciences, Murdoch University, Murdoch 6150, Australia
DOI:10.1073/pnas.1010169107
Penerbit:Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS)
Edisi/Tanggal:PNAS November 22, 2010
Download:Full Text (PDF) + Supporting Information
Cari Artikel Terkait :

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment