Pages

Dalam Agama dan Tuhan Bersabda Hukumlah Orang Seberat-beratnya

Jurnal KeSimpulan.com - Konon banyak beramal banyak pahala, tetapi itu di surga karena di dunia banyak beramal membuat orang berperilaku kecam.

Banyak agama menawarkan insentif positif bagi para pengikutnya seperti janji masuk surga setelah kematian. Tetapi mengapa agama tertentu harus melibatkan pengorbanan diri dan hukuman agar selamat? Korelasi antara dukungan agama dan pengharapan dalam memunculkan hukuman merupakan poin untuk menjawab.

Ernst Fehr dari University of Zurich di Swiss dan rekannya mendaftar 304 orang, terutama siswa. Mereka disortir menjadi berpasangan untuk memainkan 20 putaran permainan di mana pemain pertama mendapat pahala untuk dibagi dengan jumlah sama atau mengambil bagian yang lebih besar untuk diri sendiri.

Kemudian pemain kedua memiliki pilihan untuk menghukum pemain pertama dengan mengurangi pahala mereka. Tetapi memberi hukuman memiliki biaya dimana penghukum kehilangan pahala untuk masing-masing tiga unit pahala yang akan jatuh kepada pasangan yang terhukum.

Fehr ingin mengetahui apa yang memotivasi orang-orang untuk menghukum orang lain. Sebelum memutuskan hukuman, pemain kedua secara bawah sadar disublimasi dengan sekelompok kata, baik terkait dengan keagagamaan seperti "Allah", "suci", "saleh" dan "dosa" maupun kata-kata netral seperti "sekolah".

Setelah permainan, semua pemain ditanya apakah mereka telah menyumbangkan uang (membayar zakat) kepada organisasi keagamaan pada tahun lalu. Tim peneliti menemukan mereka yang membayar zakat (sekitar 15 persen dari peserta) cenderung memberi hukuman paling berat, tetapi hanya setelah mereka menunjukkan isyarat sublimasi agama.

"Kami pikir sublimasi priming didorong untuk memuaskan motif supranatural dalam menyembah, mereka cenderung akan menghukum orang lain lebih berat. Kemungkinan lain bangunan konsep hukuman Tuhan murka dalam pikiran mereka," kata Ryan McKay, psikolog dari Royal Holloway University of London yang ikut memimpin penelitian dengan Fehr.
Wrath of God: religious primes and punishment

Penulis :

Ryan McKay1,2,3,4
Charles Efferson1,2
Harvey Whitehouse3
Ernst Fehr1,2

Afiliasi :
  1. Institute for Empirical Research in Economics, University of Zürich, Zürich, Switzerland
  2. Laboratory for Social and Neural Systems Research, University of Zürich, Zürich, Switzerland
  3. Centre for Anthropology and Mind, University of Oxford, Oxford, UK
  4. Department of Psychology, Royal Holloway, University of London, Egham, Surrey TW20 0EX, UK
DOI:10.1098/rspb.2010.2125
Penerbit:Proceedings of the Royal Society B : Biology Science
Edisi/Tanggal:November 24, 2010
Download:DOI:10.1098/rspb.2010.2125

Artikel Lainnya: